Karya Syat Nasti

Nasti tak menyangka, Karya, anak dalam kandungannya, menolak dilahirkan. Padahal sudah sewindu lebih Nasti mengandung.

Alasannya, Nasti belum bisa membuktikan pada Karya bahwa Nasti benar-benar mengandung. Permasalahannya bukan siapa yang membuahinya, tetapi apakah Nasti sungguhan hamil?

Sementara, Syat, suaminya yang sakit-sakitan, tak pernah berkomentar apapun soal Nasti.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengandung, padahal kamu jelas-jelas ada dalam rahimku?” Nasti meyakinkan.

Suatu hari, sepulang dari pasar, Nasti melihat bendera lelayu di rumahnya, orang-orang melayat. Melihat Syat terbaring di dalam peti, Nasti menangis.

“Ohh, sungguh malang kau Syat, andai saja Karya-,” Nasti terkejut, perutnya rata.

Sumpah, Ini Bukan Fabel

“Anak-anak, dengarkan baik-baik, Kakek mau bercerita,”

suaranya bergetar, ketahuan berapa usia siapapun itu yang sedang berbicara di tengah kegelapan. 

Tiba-tiba api muncul di tengah malam, bersamaan dengan gesekan korek api. 

Satu pijaran api belumlah cukup untuk menerangi sekitar. Lalu, sebatang rokok mulai muncul dari balik kegelapan, dan wajah kecoa yang sudah sangat keriput menyerap cahaya yang bergerak-gerak diterpa angin malam. Mulutnya dan rahangnya bergerak, menghisap rokok, melancarkan udara untuk meratakan bara api pada rokoknya.

Dengan sebuah kibasan, api itu padam. Kembali gelap, hanya tersisa sayup-sayup bara api yang hinggap di pucuk batang sebatang rokok.

“Kek, jangan cerita itu lagi, aku sudah hapal!” ada yang mengucapkan itu, entah siapa, yang jelas suaranya dan nadanya masih kekanak-kanakan, “Kakek kan sudah tua, pasti punya banyak cerita, masak ceritanya itu-itu aja?” Lalu, malam sunyi itu berubah gaduh oleh perbincangan, sahut-sahutan, mungkin belasan pasang mulut, suaranya tidak jelas, sangat sulit untuk menangkap satu kalimat saja.

Seperti tak peduli dengan apa yang terjadi di depannya, kakek kecoa memulai kisahnya. Nada dan intonasinya tertata sekali, seperti sudah setiap hari ia lafalkan.
Dahulu kala, bumi ini pernah dihuni oleh binatang yang sangat cerdas. Kecerdasannya melebihi binatang apapun, termasuk kecoa. Saking cerdasnya, binatang itu bisa menciptakan benda dan alat untuk membantu pekerjaannya, seperti alat transportasi, alat tulis, bahkan senjata. 

Tapi, sayangnya, di samping kecerdasannya yang patut diacungi jempol, mereka sombong. Merasa paling cerdas di antara binatang-binatang lainnya, mereka tidak mau disebut binatang. Setiap kali mereka berpapasan dengan binatang, mereka mengucapkan,  “Mmm, anus Sia!”. Dari situlah para binatang menamai mereka “Manusia”.

Mereka tidak tinggal di alam seperti binatang-binatang lainnya, mereka tinggal di sebuah tempat yang ia bangun sendiri dari pohon atau beton. 

Suatu hari, leluhur kita, para kecoa, mengalami sebuah  permasalahan. Seiring dengan bumi yang semakin gersang oleh banyaknya pohon yang ditebang para manusia, cuaca ekstrim semakin sering menjadi-jadi, merusak tempat tinggal para binatang. Tempat tinggal para kecoa pun ikut rusak, banyak keluarga yang berduka.

Hampir semua binatang juga mengalami keluhan yang sama. Hanya satu binatang yang cepat sekali membangun tempat tinggalnya kembali, yaitu binatang yang paling cerdas itu, manusia.

Para kecoa dan binatang-binatang yang lain merasa membutuhkan bantuan dari manusia, tetapi mereka menyadari kalau manusia sudah punya bahasa sendiri, jadi para binatang akan kesulitan untuk bercerita pada manusia tentang apa yang terjadi pada mereka.

Akhirnya mereka sepakat, setiap hewan mengirimkan perwakilannya untuk datang meminta bantuan ke manusia. Para binatang sudah bercerita panjang lebar di depan para manusia, tapi manusia tidak mengerti satu katapun dalam bahasa binatang. Selain itu, kedatangan para binatang malah ditangkap oleh manusia sebagai ancaman, gara-gara ada manusia yang takut pada salah satu binatang. Kabarnya ada harimau yang memohon-mohon sampai memeluk kaki manusia dewasa.

Sejak kejadian itu, manusia menjadi lebih waspada pada para binatang, termasuk kecoa. Tapi, leluhur kita, kecoa, tidak patah semangat. Mereka tetap berusaha mendatangi para manusia dengan berbagai cara. Saat mereka berusaha mendekat, para manusia justru melompat, ada yang ketakutan, tetapi ada yang justru menginjak kecoa sampai mati. Kata mereka, kita menjijikkan, memawa penyakit.

Mereka makhluk yang kompleks, terlalu banyak berpikir. Permasalahannya bukan hanya dengan para hewan, tetapi juga dengan sesamanya. Apapun bisa menjadi masalah. Siapapun bisa jadi musuh.

Bumi ini semakin kacau dengan keberadaan mereka. Semakin mereka cerdas, semakin mengerikan pula senjata yang mereka ciptakan.

Dalam perang, sudah pasti banyak yang mati. Jangankan manusia, binatang-binatang yang lain juga ikut mati terkena ledakan senjata-senjata yang diciptakan manusia.

Para binatang kesulitan mencari tempat bersembunyi. Hutan semakin tipis. Pohonnya habis untuk membuat tembok pertahanan.

Pada perang dunia tiga, ledakan di mana-mana. Jauh lebih mencekam ketimbang sebelumnya. Semua binatang ketakutan. Bahkan, para manusia ikut takut oleh senjata ciptaannya sendiri, nuklir.

Tentu saja, leluhur kita, para kecoa, merasa sangat terancam. Tetapi, sebuah keajaiban terjadi. Para leluhur kita selamat dari radiasi nuklir yang merata di bumi ini. Mereka tidak merasa sakit atau apapun gara-gara radiasi itu. Mereka tetap sehat dan hidup sampai sekarang.

Seorang Einstein gagal membuktikan ucapannya. Ia pernah berkata, “Aku tak tahu senjata apa yang akan digunakan dalam perang dunia tiga, tapi pada perang dunia empat, manusia akan berperang dengan—”
“—ranting dan batu.” Kakek mengakhiri kisahnya, “Dan itu tak terjadi hingga sekarang. Tengkorak tak dapat berperang.”

Tidak terasa, udara dingin ditepis oleh hangatnya sinar matahari yang mengekspos kulit kakek kecoa. Sekarang tampak jelas, seekor kecoa tua renta duduk di atas tengkorak yang diduga tengkorak manusia.

Di bawahnya, hanya ada seekor kecoa kecil. Di sekitarnya, jejak kaki kecoa serabutan menandakan hampir semua kecoa muda meninggalkan kakek reot itu.

“Kakek, Aesop punya cerita,” bocah kecoa itu berbicara dengan lantang, “Ceritanya jauh lebih bagus dari cerita kakek!”

Si Kakek antusias menjawab, “O iya? Mana ceritanya? Sini coba, Kakek mau dengar.”

*”Mmm, anus Sia!” adalah judul sebuah puisi karya Desmond Filiam Ismoyo dengan judul sama.

Kosong adalah Isi

Malam itu, di sebuah kedai kopi di pinggiran kota Jakarta. Hanya ada 4 meja kecil dengan permukaan persegi, masing-masing cukup untuk dua orang, ditandai dengan dua buah kursi kayu yang berhadapan di dua sisi setiap mejanya. Meja pertama, kedua, ketiga telah ditempati, masing-masing oleh 2 orang. Aku duduk di meja ke-4.

Malam itu aku datang sendiri, jadi masih ada satu kursi kosong, satu meja denganku. Aku duduk di meja paling ujung, di kursi paling ujung, paling jauh dari pintu, di bawah jam tua, dan aku bisa lihat semua pelanggan lainnya.

Dua perempuan di meja pertama, dekat pintu, sedang asyik bercakap dan tertawa sambil bergantian menunjukkan sesuatu di layar ponsel pintarnyanya, kelihatannya amat menyenangkan. Di mejanya, dua cangkir transparan berisi kopi diam tak tersentuh, piring oval tergeletak, kotor oleh remah-remah roti, memantulkan cahaya lampu ruangan

Dua pria di meja kedua tampak berembug serius. Dari mulut mereka, terucap beberapa nama kafe terkenal di kota itu; nama-nama daerah seperti Aceh, Temanggung, dan Flores; satuan berat serta nominal sejumlah uang.

Aku tak menangkap dengan jelas percakapan mereka, suara mereka tertutup oleh perdebatan antara laki-laki dan perempuan yang duduk di meja ketiga, meja sebelahku. Suaranya hampir memenuhi seluruh ruangan sempit itu.

Malam itu benar-benar tidak nyaman, mereka terus saja berdebat tentang hal-hal sepele yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Hingga pesananku datang, mereka terus saja bersilat lidah. Untung, setelah kurang lebih setengah jam, dan akhirnya mereka diam juga, saling diam, lalu sibuk bermain dengan ponsel pintar mereka masing-masing.

Waktu semakin larut, tiba-tiba lonceng kecil berdenting, tanda ada seseorang membuka pintu kedai. Dari balik pintu, seorang perempuan berbaju ketat. Langkahnya terhenti ketika melihat keempat meja telah ditempati, meski sebenarnya masih ada satu kursi kosong, satu meja denganku. Ia menyapu pandangannya seisi ruangan dan ketujuh pelanggan saat itu. Pandangannya sempat terhenti padaku, tetapi dia memilih untuk tidak jadi mengunjungi kedai.

Kejadian serupa terulang hingga 5 kali, dan semuanya tidak jadi mengunjungi kedai. Aku bisa memaklumi pilihan mereka, ruangannya terlalu sempit dan mejanya sudah penuh, meski sebenarnya masih ada satu kursi kosong, satu meja denganku. Terlebih, orang sekarang memang enggan semeja dengan orang tidak dikenal di tempat umum.

Hingga hari berganti, 7 orang pelanggan, termasuk aku, tetap bertahan.

Tidak terasa, petang itu aku telah menenggak habis dua cangkir kopi robusta. Ketika aku hendak pergi, denting lonceng kecil kembali terdengar untuk kesekian kalinya. Kali ini seorang pria berjaket kulit, matanya merah, rambutnya tak tertata rapi, berjalan sempoyongan ke meja kasir, memesan sesuatu, lalu menuju ke meja aku duduk. Tanpa basa-basi, belum sempat kupersilakan ia duduk, pria itu sudah duduk di kursi di depanku, semeja denganku, kami berhadapan.

Ucapan selamat malam ia yang mulai, dan kujawab sama, meski sebenarnya saat itu sudah dini hari. Mulutnya bau alkohol.

Walau begitu, dia bisa berbicara dengan jelas dan tertata. Lalu, pesanananya, segelas air putih tiba.

Aku urungkan niat untuk pulang, kami pun bercakap, terus hingga langit mulai terang kembali.