Sumpah, Ini Bukan Fabel

“Anak-anak, dengarkan baik-baik, Kakek mau bercerita,”

suaranya bergetar, ketahuan berapa usia siapapun itu yang sedang berbicara di tengah kegelapan. 

Tiba-tiba api muncul di tengah malam, bersamaan dengan gesekan korek api. 

Satu pijaran api belumlah cukup untuk menerangi sekitar. Lalu, sebatang rokok mulai muncul dari balik kegelapan, dan wajah kecoa yang sudah sangat keriput menyerap cahaya yang bergerak-gerak diterpa angin malam. Mulutnya dan rahangnya bergerak, menghisap rokok, melancarkan udara untuk meratakan bara api pada rokoknya.

Dengan sebuah kibasan, api itu padam. Kembali gelap, hanya tersisa sayup-sayup bara api yang hinggap di pucuk batang sebatang rokok.

“Kek, jangan cerita itu lagi, aku sudah hapal!” ada yang mengucapkan itu, entah siapa, yang jelas suaranya dan nadanya masih kekanak-kanakan, “Kakek kan sudah tua, pasti punya banyak cerita, masak ceritanya itu-itu aja?” Lalu, malam sunyi itu berubah gaduh oleh perbincangan, sahut-sahutan, mungkin belasan pasang mulut, suaranya tidak jelas, sangat sulit untuk menangkap satu kalimat saja.

Seperti tak peduli dengan apa yang terjadi di depannya, kakek kecoa memulai kisahnya. Nada dan intonasinya tertata sekali, seperti sudah setiap hari ia lafalkan.
Dahulu kala, bumi ini pernah dihuni oleh binatang yang sangat cerdas. Kecerdasannya melebihi binatang apapun, termasuk kecoa. Saking cerdasnya, binatang itu bisa menciptakan benda dan alat untuk membantu pekerjaannya, seperti alat transportasi, alat tulis, bahkan senjata. 

Tapi, sayangnya, di samping kecerdasannya yang patut diacungi jempol, mereka sombong. Merasa paling cerdas di antara binatang-binatang lainnya, mereka tidak mau disebut binatang. Setiap kali mereka berpapasan dengan binatang, mereka mengucapkan,  “Mmm, anus Sia!”. Dari situlah para binatang menamai mereka “Manusia”.

Mereka tidak tinggal di alam seperti binatang-binatang lainnya, mereka tinggal di sebuah tempat yang ia bangun sendiri dari pohon atau beton. 

Suatu hari, leluhur kita, para kecoa, mengalami sebuah  permasalahan. Seiring dengan bumi yang semakin gersang oleh banyaknya pohon yang ditebang para manusia, cuaca ekstrim semakin sering menjadi-jadi, merusak tempat tinggal para binatang. Tempat tinggal para kecoa pun ikut rusak, banyak keluarga yang berduka.

Hampir semua binatang juga mengalami keluhan yang sama. Hanya satu binatang yang cepat sekali membangun tempat tinggalnya kembali, yaitu binatang yang paling cerdas itu, manusia.

Para kecoa dan binatang-binatang yang lain merasa membutuhkan bantuan dari manusia, tetapi mereka menyadari kalau manusia sudah punya bahasa sendiri, jadi para binatang akan kesulitan untuk bercerita pada manusia tentang apa yang terjadi pada mereka.

Akhirnya mereka sepakat, setiap hewan mengirimkan perwakilannya untuk datang meminta bantuan ke manusia. Para binatang sudah bercerita panjang lebar di depan para manusia, tapi manusia tidak mengerti satu katapun dalam bahasa binatang. Selain itu, kedatangan para binatang malah ditangkap oleh manusia sebagai ancaman, gara-gara ada manusia yang takut pada salah satu binatang. Kabarnya ada harimau yang memohon-mohon sampai memeluk kaki manusia dewasa.

Sejak kejadian itu, manusia menjadi lebih waspada pada para binatang, termasuk kecoa. Tapi, leluhur kita, kecoa, tidak patah semangat. Mereka tetap berusaha mendatangi para manusia dengan berbagai cara. Saat mereka berusaha mendekat, para manusia justru melompat, ada yang ketakutan, tetapi ada yang justru menginjak kecoa sampai mati. Kata mereka, kita menjijikkan, memawa penyakit.

Mereka makhluk yang kompleks, terlalu banyak berpikir. Permasalahannya bukan hanya dengan para hewan, tetapi juga dengan sesamanya. Apapun bisa menjadi masalah. Siapapun bisa jadi musuh.

Bumi ini semakin kacau dengan keberadaan mereka. Semakin mereka cerdas, semakin mengerikan pula senjata yang mereka ciptakan.

Dalam perang, sudah pasti banyak yang mati. Jangankan manusia, binatang-binatang yang lain juga ikut mati terkena ledakan senjata-senjata yang diciptakan manusia.

Para binatang kesulitan mencari tempat bersembunyi. Hutan semakin tipis. Pohonnya habis untuk membuat tembok pertahanan.

Pada perang dunia tiga, ledakan di mana-mana. Jauh lebih mencekam ketimbang sebelumnya. Semua binatang ketakutan. Bahkan, para manusia ikut takut oleh senjata ciptaannya sendiri, nuklir.

Tentu saja, leluhur kita, para kecoa, merasa sangat terancam. Tetapi, sebuah keajaiban terjadi. Para leluhur kita selamat dari radiasi nuklir yang merata di bumi ini. Mereka tidak merasa sakit atau apapun gara-gara radiasi itu. Mereka tetap sehat dan hidup sampai sekarang.

Seorang Einstein gagal membuktikan ucapannya. Ia pernah berkata, “Aku tak tahu senjata apa yang akan digunakan dalam perang dunia tiga, tapi pada perang dunia empat, manusia akan berperang dengan—”
“—ranting dan batu.” Kakek mengakhiri kisahnya, “Dan itu tak terjadi hingga sekarang. Tengkorak tak dapat berperang.”

Tidak terasa, udara dingin ditepis oleh hangatnya sinar matahari yang mengekspos kulit kakek kecoa. Sekarang tampak jelas, seekor kecoa tua renta duduk di atas tengkorak yang diduga tengkorak manusia.

Di bawahnya, hanya ada seekor kecoa kecil. Di sekitarnya, jejak kaki kecoa serabutan menandakan hampir semua kecoa muda meninggalkan kakek reot itu.

“Kakek, Aesop punya cerita,” bocah kecoa itu berbicara dengan lantang, “Ceritanya jauh lebih bagus dari cerita kakek!”

Si Kakek antusias menjawab, “O iya? Mana ceritanya? Sini coba, Kakek mau dengar.”

*”Mmm, anus Sia!” adalah judul sebuah puisi karya Desmond Filiam Ismoyo dengan judul sama.