Karya Nara

“Aku akan menamainya Karya, dan aku suka nama itu. Karya,” ucapan manusia itu mengganggu pendengaran Karya yang tengah merintih atas penderitaan yang sedang ia alami. Tubuhnya penuh luka dan sudah tak berwujud akibat diseret sekian jauhnya oleh sosok tak berwujud. Kuku tangannya lepas semua akibat berusaha mencengkram tanah. Sepanjang jalan, jejak darah, kulit, daging, jeroan, serpihan tulang tubuhnya tercecer.

“Sebentar lagi kau akan dilahirkan,” Dhvani yang tak kasat mata menyampaikan pesan terakhirnya melalui gema, wujud aslinya, yang hanya bisa didengar Karya dan Dhvani sendiri, “Jadilah nara, jadilah fana.”

Karya melolong, menatap atap tanpa dasar. “Aku belum siap!”

Nasti tergeletak lemas, begitu pula Syat yang ngos-ngosan tergeletak di atas tubuh Nasti. Malam itu, dua daging tak berbusana itu mandi keringat.

“Aku akan menamainya Karya,” ucap Nasti kepada Syat. “Dan aku suka nama itu. Karya,” timpal Syat, tersenyum kepada istri barunya.

Karya Syat Nasti

Nasti tak menyangka, Karya, anak dalam kandungannya, menolak dilahirkan. Padahal sudah sewindu lebih Nasti mengandung.

Alasannya, Nasti belum bisa membuktikan pada Karya bahwa Nasti benar-benar mengandung. Permasalahannya bukan siapa yang membuahinya, tetapi apakah Nasti sungguhan hamil?

Sementara, Syat, suaminya yang sakit-sakitan, tak pernah berkomentar apapun soal Nasti.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengandung, padahal kamu jelas-jelas ada dalam rahimku?” Nasti meyakinkan.

Suatu hari, sepulang dari pasar, Nasti melihat bendera lelayu di rumahnya, orang-orang melayat. Melihat Syat terbaring di dalam peti, Nasti menangis.

“Ohh, sungguh malang kau Syat, andai saja Karya-,” Nasti terkejut, perutnya rata.