Bocah Palu Aspal

Pagi itu, bunyi gebuk palu dan aspal mendahului jago berkokok. Seorang bocah mengamuk pada jalan yang melintas di sebelah papringan. Ia mengayunkan martil dengan tangan mungilnya ke satu titik permukaan aspal.

Tampak, sudah ada beberapa lubang di aspal yang tebalnya tak lebih dari satu jari.
Semakin bocah itu memukul keras, semakin ia mengamuk. Wajahnya geram, murka, seperti orang membalas dendam. Ia terus memartil aspal sampai secuil aspal mencuat, rusak, melebar sampai membentuk lubang.

Di balik lapisan aspal itu, tampak permukaan batu yang telah tersusun rapih, trasahan.

Tak puas dengan lubang aspal sebesar telapak tangan orang dewasa, ia bergeser, kembali merusak permukaan lain yang masih halus.

Tak sengaja, martilnya lepas dari tangan, terpental sampai tanah di bawah pohon bambu. Saat hendak mengambil kembali martil bapaknya, ia melihat sebuah gigi tergeletak di tanah dekat martilnya. Ukurannya kecil, dan jelas itu bukan gigi orang dewasa. Diambillah martil dan juga gigi itu, lalu kembali memukul-mukul aspal.

Bunyi mesin kendaraan bermotor terdengar mendekat.

“Bocah edan! Bocah palu aspal!” umpat seorang pengendara motor yang hampir saja menabrak bocah itu.

Kendaraan bermotor yang lainnya menyusul. Beberapa dari mereka yang lewat tampak marah, lantaran mengetahui jalan penghubung desa ke jalan raya dirusak oleh seorang bocah dengan martil. Yang lain cuek saja, malahan mempercepat laju kendaraannya.

Matahari semakin melotot, seperti menghardik bocah itu dengan teriknya. Kendaraan semakin banyak dan rutin. Kalau sudah begini, dia tak punya kesempatan untuk merusak jalan yang sepertinya sangat ia benci. Mungkin ia akan melanjutkannya esok.

Ia pulang, dengan wajah yang belum puas, dendamnya belum juga lunas. Ia berjalan di rerumputan, sepertinya enggan untuk berjalan di aspal. Melewati sebuah pohon kelengkeng, ia berbelok, menembus semak-semak.

Di kebun belakang rumah, ia menghampiri sebuah sepeda yang bersandar di sumur dekat rumahnya. Tampak masih kinclong, baru, kecuali ada sebagian cat yang terkelupas, seperti terkena gesekan dengan benda kasar di salah satu sisi kerangka sepeda. Karet setang sebelah kanannya juga robek.

Ia merogoh saku celana pendeknya, mengambil gigi yang ia temukan tadi. Dilemparkannya tinggi-tinggi ke atap genting rumahnya.

Ealah, Le. Wis bali, Le? Ayo sarapan sek!

Suara ibunya terdengar dari dalam rumah. Bocah itu tersenyum, menampilkan giginya yang ompong, lalu berlari masuk rumah.

Advertisements

“crmn” Sebuah Pengantar Bagaimana Membacanya

Bagaimana caramu membaca dan mengucapkan “crmn”?

“For sale: baby shoes, never worn.”

Ini bukanlah judul ataupun kutipan dialog dari sebuah karya tulis. Enam kata itu adalah keseluruhan dari sebuah cerita karya maestro prosa dari negeri paman Sam, Ernest Hemingway.

Ya, cermin atau cerita mini, sesuai dengan namanya adalah salah satu jenis karya sastra, mirip dengan cerita pendek atau cerpen, hanya saja lebih pendek daripada cerpen. Nah, contoh pembuka tadi adalah contoh ekstrem. Tidak semua cermin sependek dan sesingkat itu.Meski belum ada aturan baku berapa batasan jumlah kata cermin, kita asumsikan saja jumlah kata satu cermin yaitu tidak lebih dari 1000 kata. Sedikit, bukan?

Pada awalnya, cermin atau flash fiction  dibuat dengan maksud bisa dibaca dalam sesaat sekaligus atau sekelebat, dan pembaca tidak perlu waktu banyak untuk menyelesaikan cerita. Sangat cocok kan untuk orang yang gemar membaca tetapi tidak punya banyak waktu untuk membaca.

Pada awal abad ke-19, di Amerika, cerita mini sangatlah populer, bahkan sampai ada antologi cerita mini di sana. Salah satunya adalah The American Short Short Story. Namun, semakin kini, namanya mulai memudar. Bahkan, sekarang cermin jarang dibahas di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. 

Cermin memang memiliki banyak kelemahan. jumlah kata yang terbatas mencekik berbagai unsur dalam sebuah cerita, seperti tokoh, alur, permasalahan dan lainnya. Penggambaran suasana dan narasi penceritaannya tak sebebas novel, dan lebih terbatas daripada cerpen pula. Konfliknya pun tidak sekompleks di novel.

Di samping berbagai kelemahan itu, cermin sebenarnya memiliki kelebihan. Cermin akan lebih fokus dalam menyampaikan pesan dalam ceritanya. Selain itu, karena pendek, kisahnya akan lebih diingat dan mengenang. Dalam segala keterbatasan itu, penulis diajak lebih kreatif dalam mengemas teknik-teknik penceritaan.

Kurang lebih itulah gambaran mini tentang cerita mini. Praktisnya, cermin adalah sebuah cerita yang mengalami pemadatan. Dalam pemadatan itu, ada unsur-unsur yang dibuang untuk memunculkan kesan singkat. Meski mengalami pemadatan dan penyingkatan, sebisa mungkin nilai itu tetap terjaga keutuhannya dan tetap bisa mendarat di kesadaran pembaca dengan selamat meski tidak selalu mulus. Mungkin, dari situlah, beberapa dari kalian, termasuk saya, mengucapkan crmn /cérmin/.

Tak perlu berpikir keras untuk membaca cermin-cermin di crmn karena semuanya adalah crmn kehidupan kita sehari-hari.